Rabu, 03 Oktober 2012
Merentas Khayal dikala renta
Hari ini sebuah pelajaran berharga sekaligus sebuah pertanyaan yang menyesakkan untuk segera dijawab muncul.
Setelah kulihat semuanya aku terduduk lemas, tersandar di sebuah tiang persegi empat yang menopang lorong berwarna kuning kelabu,..
Sebuah pemandangan dimana aku dipaksa untuk menyaksikan seorang renta dengan rasa kesakitan yang luar biasa, dia keluarga jauhku tapi aku merasa dia sebuah tamparan bagi bayang bayang yang selama ini aku fikirkan...
Disana aku bayangkan sosok bapak yang konon meregenerasikan aku kedunia dan mengenal semua kebrengsekan isinya. Aku membayangkan dia yang entah dimana tergolek sama seperti yang aku liat,...
Aku malu untuk menangis, karena disini bukan tempat yang tepat, dan aku sudah pernah berjanji untuk menggadaikan air mata atas hal2 yang tidak penting.
Hanya saja mungkin kedua mata jendela dunia ini kemasukan debu hingga over load sampai-sampai ada dua tetes air yang mengalir, tapi sekali lagi itu bukan tangis.
Terus aku membayangkan orang yang meregenerasikanku itu tergoleh sama seperti orang yang kulihat barusan, terbaring lemah tanpa suara dan hanya berharap tangan tangan lembut wanita setia yang memandikannya dengan selembar handuk basah...
Sialan... Aku menangis,,,,#
Karena kali ini aku bukan lagi membayangkan yang pembaringan itu bukan dia, atau ayahku tapi aku...!!!
Aku membayangkan aku tergolek disana dan hanya bisa merintih atas penyakit yang akupun belum tau,.. Mungkinkah aku hanya ditemani dara manis yang dibayar perjam berpakaian putih atau ada orang2 yang setia disampingku...
Atau aku hanya bisa berdoa saja menunggu pangeran sakratul maut menjemput...
Sialan.... Aku menangis lagi...#
Karena pada saat aku terbaring dan berkhayal. Ada yang rela bersamaku tiba tiba pergi, dalam bisik halus yang menembus gendang telingaku dia berkata, maaf aku harus pergi meninggalkanmu karena aku tak mampu bersamamu,...
Sialan...Aku menangis lagi..#
Karena saat aku sembuh dan bisa berjalan dengan tertatih tatih semuanya sudah tidak ada, semuanya sudah hilang, krn semuanya habis untuk biaya disaat aku tergolek dipembaringan selama berbulan bulan..
Sialan... aku berkhayal, aku berjhayal tentang sesuatu yang sangat menyedihkan yang belum tentu terjadi dalam hidupku,..
lalu terfikir mungkin dan akankah itu terjadi,
Lalu jika itu terjadi apa yang harus aku lakukan, apakah ketika aku sudah benar benar tidak ada apa apanya lantas aku turun kejalan dengan berbekal separuh batok kelapa untuk berharap sedekah?
Sambil menunggu cendawan2 langit menua?
Atau sampai akhirnya aku dihimpit tanah nan sempit menunggu hari pemusnahan bumi.
Lalu ku khayal lagi, lagi dan lagi untuk melahirkan 1000 mimpi berinvestasi menyelamatkan hari kelak, dimana tanpa bekerja aku bisa nikmati 1 milyard setiap dasawarsa meskipun orang yang mungkin kita kasihi pergi,.
.@ RS Ade joen Sintang
Langganan:
Komentar (Atom)